Pulanglah dik!
tak perlu jika tak mau pikirkan kami
tapi kau kesayangan ibu
air matanya terlalu banyak untukmu
renungkanlah tentang itu
bila angkuhmu tak juga surut...
Pulanglah dik!
tak usah jika tak mau pedulikan kami
tapi kau putra tunggal
dari pemilik rahim
yang kita panggil ibu!
lebih dari 20 tahun
keringatnya diabdikan untuk hidupmu
sadarilah itu jika aroganmu tak jua melebur...
Di mana kami harus berdiri
di antara kau dan ayah
pada tiap pertengkaran
jika lapang ego tak memberi celah
tuk kami tengahi?
Seperti Ramadhan kemarin,
sesunggukkan ibu
juga terduga tak mampu menahan pergimu...
Shubuh tadi sedunya menyayat ketika sujud
tapi aku ragu bila kau merasa meski berharap!
Ayah tak membencimu...
dia hanya menyayangimu
dengan cara yang tak kau suka
dan seperti itu juga
dia mengasihi kami.
Pulanglah dik!
tanpamu, kami tak mungkin utuh...
Biarkan aku menjadi rembulan meski hanya untuk mendekam dalam gerhana, izinkan aku menjadi gemnintang meski mendung selalu mengabutiku, atau relakan aku mengabjad sepi meski huruf-hurufku tak dapat terbaca, apapun itu aku hanya ingin tetap menjadi bagian dari malam dan kegelapannya...di sini, di belantara heningku...
Tampilkan postingan dengan label Kidung Rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kidung Rindu. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 Agustus 2010
Sabtu, 29 Mei 2010
Pelangi Tiga Warna 2 ( Balasan Surat Untuk Sahabatku, Aditya Tomawonge )
Telah kubaca, entah berapa kali...
tak lagi kuingat tapi berkali-kali, pasti!
surat yang kau alamatkan untuk namaku
surat yang mengantarku
pada puluhan ribu detik tak terhitung,
waktu yang pernah kita lewatkan!
Pelangi 3 warna...
warnaku, warnamu dan warna...
akh, warna seseorang yang mungkin telah melupakan kita?
yang dulu begitu dekat,
yang wujudnya hadir jadi bayangn kita di depan cermin!
aku ingat sangat jelas
saat kita berdua duduk di sofa itu, suatu malam
kau terdiam, aku membisu
meratapi pamitnya karena merasa kita lukai
aku tahu rasanya, sangat tahu dan benar-benar tahu
kecemburuan tanpa alasan
tapi akupun tak berani salahkan hasratnya padamu
itu hasratnya, dia berhak atas itu
walau semua pilihan ada padamu
Aku ingat sangat jelas
saat kita berdua duduk di sofa itu, suatu malam
aku membisu, kau terdiam
menyesali kepergiaannya karena merasa kita acuhkan
aku mengerti rasamu, sangat mengerti dan benar-benar mengerti
kau terpukul dan itu pantas!
aku dan dia mengajakmu berlayar di laut penuh badai
menuju mimpi yang kan menyata oleh tekad
tapi dia berlalu, sebelum biduk kita mendekap dermaga
hingga kaupun meragukanku bisa bertahan
"aku takkan meninggalkanmu," kataku yakin
dan kita habiskan malam tanpa pejam
sahabat, tak luput pula dalam ingatan ini
Maafmu, kala sempat kuingkari janjiku
janji yang sesaat kuabaikan karena perdebatan yang bukan denganmu
tapi dengan mereka yang sangsi padaku
padahal begitu yakin kau terhadap semua yang akupun tak yakin
tentang mampuku
sahabat, kini kita di kota yang berbeda
aku di sini, kau di sana dan dia di tempat tak berjejak
hilangnya sungguh tak terjamah dalam gelapku
apa kabarnya?
rinduku bahkan tak sanggup datangkan senyumnya
Pelangi tiga warna...
pertalian yang hadir dari proses naturalisasi tanpa syarat
tapi terpatahkan oleh pesona yang dipuja
cinta tak bersambut yang juga hadir karena naturalisasi tanpa syarat
masihkah itu melengkung di langit kota kita, suatu saat?
akankah dia kembali tanpa hasrat yang dulu?
komitmen yang kita tanam dan masih kau pupuk
pastikah menyatukan mimpi dan cita-cita kita lagi?
pelangi tiga warna...
tetaplah pelangi tiga warna karena dia takkan terganti
pelangi tiga warna...
aku rindu pada binar cahayamu,
rindu pada berita tentang seseorang...
apa demikian juga denganmu, sahabatku?
tak lagi kuingat tapi berkali-kali, pasti!
surat yang kau alamatkan untuk namaku
surat yang mengantarku
pada puluhan ribu detik tak terhitung,
waktu yang pernah kita lewatkan!
Pelangi 3 warna...
warnaku, warnamu dan warna...
akh, warna seseorang yang mungkin telah melupakan kita?
yang dulu begitu dekat,
yang wujudnya hadir jadi bayangn kita di depan cermin!
aku ingat sangat jelas
saat kita berdua duduk di sofa itu, suatu malam
kau terdiam, aku membisu
meratapi pamitnya karena merasa kita lukai
aku tahu rasanya, sangat tahu dan benar-benar tahu
kecemburuan tanpa alasan
tapi akupun tak berani salahkan hasratnya padamu
itu hasratnya, dia berhak atas itu
walau semua pilihan ada padamu
Aku ingat sangat jelas
saat kita berdua duduk di sofa itu, suatu malam
aku membisu, kau terdiam
menyesali kepergiaannya karena merasa kita acuhkan
aku mengerti rasamu, sangat mengerti dan benar-benar mengerti
kau terpukul dan itu pantas!
aku dan dia mengajakmu berlayar di laut penuh badai
menuju mimpi yang kan menyata oleh tekad
tapi dia berlalu, sebelum biduk kita mendekap dermaga
hingga kaupun meragukanku bisa bertahan
"aku takkan meninggalkanmu," kataku yakin
dan kita habiskan malam tanpa pejam
sahabat, tak luput pula dalam ingatan ini
Maafmu, kala sempat kuingkari janjiku
janji yang sesaat kuabaikan karena perdebatan yang bukan denganmu
tapi dengan mereka yang sangsi padaku
padahal begitu yakin kau terhadap semua yang akupun tak yakin
tentang mampuku
sahabat, kini kita di kota yang berbeda
aku di sini, kau di sana dan dia di tempat tak berjejak
hilangnya sungguh tak terjamah dalam gelapku
apa kabarnya?
rinduku bahkan tak sanggup datangkan senyumnya
Pelangi tiga warna...
pertalian yang hadir dari proses naturalisasi tanpa syarat
tapi terpatahkan oleh pesona yang dipuja
cinta tak bersambut yang juga hadir karena naturalisasi tanpa syarat
masihkah itu melengkung di langit kota kita, suatu saat?
akankah dia kembali tanpa hasrat yang dulu?
komitmen yang kita tanam dan masih kau pupuk
pastikah menyatukan mimpi dan cita-cita kita lagi?
pelangi tiga warna...
tetaplah pelangi tiga warna karena dia takkan terganti
pelangi tiga warna...
aku rindu pada binar cahayamu,
rindu pada berita tentang seseorang...
apa demikian juga denganmu, sahabatku?
Senin, 12 April 2010
Kerinduan
Sudah kucoba untuk berteman
dengan kebisingan
agar aku tak lagi bergumul dengan sepi
tapi kerinduan ini terus menyeretku
dalam sunyi
Sudah kucoba untuk berteman
dengan kicau burung
agar aku dapat menyanyikan keceriaan
tapi kerinduan ini terus memaksaku
melagukan kepiluan
Sudah kucoba untuk berteman
dengan cahaya mentari
agar penglihatanku tak lagi basah oleh air mata
tapi kerinduan terus mendorongku
dalam tangis
Sudah kucoba untuk berteman
dengan warna pelangi
agar senyumku dapat berbaris dengan keindahannya
tapi kerinduan terus membuatku terbang
bersama awan kelabu
Sudah kucoba untuk berteman
dengan mereka agar aku dapat melupakanmu
tapi kerinduan terus membawaku mencari bayangmu
di antara kegelisahan ini
Sudah dan telah aku coba untuk berteman
dengan segalanya tapi pada akhirnya
aku mungkin tetap mati
dalam kerinduan...
dengan kebisingan
agar aku tak lagi bergumul dengan sepi
tapi kerinduan ini terus menyeretku
dalam sunyi
Sudah kucoba untuk berteman
dengan kicau burung
agar aku dapat menyanyikan keceriaan
tapi kerinduan ini terus memaksaku
melagukan kepiluan
Sudah kucoba untuk berteman
dengan cahaya mentari
agar penglihatanku tak lagi basah oleh air mata
tapi kerinduan terus mendorongku
dalam tangis
Sudah kucoba untuk berteman
dengan warna pelangi
agar senyumku dapat berbaris dengan keindahannya
tapi kerinduan terus membuatku terbang
bersama awan kelabu
Sudah kucoba untuk berteman
dengan mereka agar aku dapat melupakanmu
tapi kerinduan terus membawaku mencari bayangmu
di antara kegelisahan ini
Sudah dan telah aku coba untuk berteman
dengan segalanya tapi pada akhirnya
aku mungkin tetap mati
dalam kerinduan...
Selasa, 06 April 2010
Harus Kuakui Kalau Aku Rindu
Kubaitkan lagi kata-kata
tapi bukan tentang malam
bukan pula gelap
kau tahu apa itu?
Sebuah rasa yang membiru
tentu saja rindu...
ini bukan datang tiba-tiba
telah ada sejak aku di sini
Takut aku mengakui
karena tak ingin disangka cengeng
tapi diam-diam meneteskan tirta bening
dan sudah pasti sembunyi-sembunyi
Aku mesti memantelkan ketegaran
pada jiwa yang rapuh ini
demi yakinkan dia untuk rela melepasku
sementara...
Akh..sementara yang kini hadirkan galau
apa kabarnya?
wajah itu telah mulai mengerutkah?
bibir itu pasti masih tetap basah oleh dzikir
Suaranya juga tetap lembut bila menegurku
Tidak!! aku harus mengakuinya sekarang
sebelum aku tak punya kata-kata lagi!
Mom I miss you
not just tonight
but since I'm in this city without you ...
When the time comes I'll go home
for you.. my beloved mother!
tapi bukan tentang malam
bukan pula gelap
kau tahu apa itu?
Sebuah rasa yang membiru
tentu saja rindu...
ini bukan datang tiba-tiba
telah ada sejak aku di sini
Takut aku mengakui
karena tak ingin disangka cengeng
tapi diam-diam meneteskan tirta bening
dan sudah pasti sembunyi-sembunyi
Aku mesti memantelkan ketegaran
pada jiwa yang rapuh ini
demi yakinkan dia untuk rela melepasku
sementara...
Akh..sementara yang kini hadirkan galau
apa kabarnya?
wajah itu telah mulai mengerutkah?
bibir itu pasti masih tetap basah oleh dzikir
Suaranya juga tetap lembut bila menegurku
Tidak!! aku harus mengakuinya sekarang
sebelum aku tak punya kata-kata lagi!
Mom I miss you
not just tonight
but since I'm in this city without you ...
When the time comes I'll go home
for you.. my beloved mother!
Kamis, 21 Januari 2010
Rindu Lelap
Masih tak terpejam,
Dua kelopak yang harusnya mengatup,
Pikirpun tak mau berhenti
Masih asyik mencumbu waktu,
Ah.., entah berapa malam telah terlewat
Tak terhitung bilangannya
walau kadang tak satu baitpun terangkai
Tapi larut selalu membuat betah
Tanpa pulas...
sekedar tuk cari inspirasi
walau lebih sering tak kutemukan
Memang nasib penyair gelap,
Tak lagi sanggup nikmati nyenyak
Selalu bukan karena pengap
Tak pasti pula karena nyamuk
Sedikit insomnia,
Bercampur ambisi memburu inspirasi
Paling pantas didakwa dari semuanya
Otakku mulai error
Tapi...ah, tidur masih belum bisa ...
Aku rindu bermimpi
Rindu lelap,
Rindu....
Dua kelopak yang harusnya mengatup,
Pikirpun tak mau berhenti
Masih asyik mencumbu waktu,
Ah.., entah berapa malam telah terlewat
Tak terhitung bilangannya
walau kadang tak satu baitpun terangkai
Tapi larut selalu membuat betah
Tanpa pulas...
sekedar tuk cari inspirasi
walau lebih sering tak kutemukan
Memang nasib penyair gelap,
Tak lagi sanggup nikmati nyenyak
Selalu bukan karena pengap
Tak pasti pula karena nyamuk
Sedikit insomnia,
Bercampur ambisi memburu inspirasi
Paling pantas didakwa dari semuanya
Otakku mulai error
Tapi...ah, tidur masih belum bisa ...
Aku rindu bermimpi
Rindu lelap,
Rindu....
Langganan:
Postingan (Atom)