Kita kelanakan asa dalam maya
Hanya raga yang tak bergeming
segala keangkuhan membuana
rata terpijak kesederhanaan
sebab karena itulah
semua tersatukan dalam kata
Menggelembung ragam arti
senyum, tangis, amarah, hingga perlawanan
kita sabdakan mengikuti alur emosi yang melata
Aku, kau, dia dan Kita
Tak ada jarak...
Sama sekali tak berjarak
Aku ada dalam puisimu
Kau di tiap baris sajakku
Dia melarik pada syair kau dan aku
Lalu kita tergumul di tilam-tilam makna
Kita wartakan setiap gejolak rasa
yang meruang dalam segala bentuk
mengikuti jejak-jejak musim
kadang senyum kita rangkai terlalu kecut
Tangis kita rinaikan tidak dengan suara
atau amarah kita lembutkan teramat samar
Dan perlawananpun berdarah-darah
tanpa kekejaman...
Takkan terbendung jika telah kita tintakan ilham
meski realitas tentang ketimpangan negeri
terkuak menelanjangi para elit
karena tangan penguasa tak mampu menjamah kita
seperti jelata yang tercekik kebijakannya
sebab kita adalah penyair
hanya pasti tunduk pada yang Arif.....
Biarkan aku menjadi rembulan meski hanya untuk mendekam dalam gerhana, izinkan aku menjadi gemnintang meski mendung selalu mengabutiku, atau relakan aku mengabjad sepi meski huruf-hurufku tak dapat terbaca, apapun itu aku hanya ingin tetap menjadi bagian dari malam dan kegelapannya...di sini, di belantara heningku...
Tampilkan postingan dengan label Untuk Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untuk Sahabat. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 10 April 2010
Senin, 22 Februari 2010
Seperti itu, kuingin setiap abjadku terpintal dalam pekat malam (doa penyair gelap)
Seperti petuah-petuah Black Partkidz
Senantiasa hadirkan yakin untuk tetap tegar
Ketika himpitan beban tak sanggup lagi
Kutanggung…
Seperti fatwa-fatwa Aditya Tomawonge
Selalu tak pernah lelah merasa aku bisa
Ketika ragu mendelta jadi perasangka
Di sekelilingku…
Seperti perumpamaan-perumpamaan Diyan Rabiah
Memberiku inspirasi tentang feminisme
Yang tetap terjaga pada kerangka fitrahku
Sebagai perempuan…
Seperti daya kritisnya saka keprabon
Dalam puisi-puisi panjang
Menggugah sadarku tentang hidup,
Hakekat diri, nasionalis dan transendental…
Seperti kopi dan kobaran semangat Oo Zaki
Tertuang dalam bait-baitnya yang jujur
Ingatkan aku tentang pahit getir kehidupan jelata,
Ajarkan aku tentang optimisme anak negeri
Bakar jiwaku tuk pertahankan setiap jengkal tumpah darahku…
Seperti alur yang tercipta dalam imaji Irwan Bajang
Hadirkan cermin yang nyata untuk bisa kumaknai
Hingga jalan hidupku kembali tertata
Tepiskan kira tentang ketidakmampuanku
Yang sekian lama menggumpal…
Seperti keberanian Halim Bahriz
Bereksplorasi melarik kata menjadi syair
Mendorongku pada kebebasan bereksperesi
Yang tak bijak bila terabaikan
Karena takutku pada logika akademis yang memasung
Seperti geniusnya Jati Myw
Inovatif meramu lirik dengan bahasa tekno sains
Menguatkan kebenaran akan nilai universal sastra
Yang tak lagi terbantahkan…
Seperti kalimat-kalimat syahdu seputih kasih
Yang menyentuh hingga ke dasar atma
Hadirkan damai yang terbingkai tulus
Menyulam perbedaan warna kami menjadi pelangi,
Tebarkan cinta yang tersulut untuk nusantaraku
Seperti itulah aku ingin setiap abjadku terpintal
Dalam pekat malam
Meskipun hanya mampu merayap
Di bawah ketinggan sajak-sajak kalian!
Kutelagakan kekagumanku tuk setiap goresan tangan kalian,
Kubanjiri salutku tuk genangi coretan ide-ide kalian,
Ku muarakan derasnya pujian pada karya-karya kalian,
Tapi ku samudrakan maaf atas katakberdayaanku
Membusakan bahasa yang elok tuk mengapresiasikannya,
Aku hanya mampu merumput di bawah rindang keanggunan bahasa kalian
Aksara-aksaraku tunduk menghamba pada keperkasaan huruf-huruf kalian!
Ku arungkan doa semoga suatu saat lembar-lembar tulisan kalian,
Menjadi bagian yang mengisi perpustaakan tempatku bekerja…
Senantiasa hadirkan yakin untuk tetap tegar
Ketika himpitan beban tak sanggup lagi
Kutanggung…
Seperti fatwa-fatwa Aditya Tomawonge
Selalu tak pernah lelah merasa aku bisa
Ketika ragu mendelta jadi perasangka
Di sekelilingku…
Seperti perumpamaan-perumpamaan Diyan Rabiah
Memberiku inspirasi tentang feminisme
Yang tetap terjaga pada kerangka fitrahku
Sebagai perempuan…
Seperti daya kritisnya saka keprabon
Dalam puisi-puisi panjang
Menggugah sadarku tentang hidup,
Hakekat diri, nasionalis dan transendental…
Seperti kopi dan kobaran semangat Oo Zaki
Tertuang dalam bait-baitnya yang jujur
Ingatkan aku tentang pahit getir kehidupan jelata,
Ajarkan aku tentang optimisme anak negeri
Bakar jiwaku tuk pertahankan setiap jengkal tumpah darahku…
Seperti alur yang tercipta dalam imaji Irwan Bajang
Hadirkan cermin yang nyata untuk bisa kumaknai
Hingga jalan hidupku kembali tertata
Tepiskan kira tentang ketidakmampuanku
Yang sekian lama menggumpal…
Seperti keberanian Halim Bahriz
Bereksplorasi melarik kata menjadi syair
Mendorongku pada kebebasan bereksperesi
Yang tak bijak bila terabaikan
Karena takutku pada logika akademis yang memasung
Seperti geniusnya Jati Myw
Inovatif meramu lirik dengan bahasa tekno sains
Menguatkan kebenaran akan nilai universal sastra
Yang tak lagi terbantahkan…
Seperti kalimat-kalimat syahdu seputih kasih
Yang menyentuh hingga ke dasar atma
Hadirkan damai yang terbingkai tulus
Menyulam perbedaan warna kami menjadi pelangi,
Tebarkan cinta yang tersulut untuk nusantaraku
Seperti itulah aku ingin setiap abjadku terpintal
Dalam pekat malam
Meskipun hanya mampu merayap
Di bawah ketinggan sajak-sajak kalian!
Kutelagakan kekagumanku tuk setiap goresan tangan kalian,
Kubanjiri salutku tuk genangi coretan ide-ide kalian,
Ku muarakan derasnya pujian pada karya-karya kalian,
Tapi ku samudrakan maaf atas katakberdayaanku
Membusakan bahasa yang elok tuk mengapresiasikannya,
Aku hanya mampu merumput di bawah rindang keanggunan bahasa kalian
Aksara-aksaraku tunduk menghamba pada keperkasaan huruf-huruf kalian!
Ku arungkan doa semoga suatu saat lembar-lembar tulisan kalian,
Menjadi bagian yang mengisi perpustaakan tempatku bekerja…
Minggu, 14 Februari 2010
Di sudut dan Jengkal-Jengkal landasan Yang kita Pijaki bertabur Petaka, Bukan cuma di tanah kalian!!
Di Timur Indonesia, kami menjadi embrio,
Berkembang membentuk janin
Lalu lahir sebagai generasi baru
Generasi yang kini sibuk dalam pergulatan zaman
Di sini di tanah Timore…
Kami memekik pada kalian yang berpesta
Dengan idelalisme konyol tapi haus kekuasaan
Berhentilah melukai nasionalisme
Yang mengalir pada setiap darah yang memerah
Di tanah persada…!
Di sudut dan di jengkal-jengkal landasan yang kita pijaki
Bertabur petaka…
Tiap sudut dan tiap jengkalnya, bukan hanya di tanah kalian!
Di Timur, Barat, Utara dan Selatan
Tak ada yang tersisa, kawan
Kalian ributkan pemerataan pembangunan?
Jangan kira kamipun tak suarakan itu!
Bahkan mungkin Tidore,
Negeri kami,
Akan terlupa sebagai kota karena wujudnya tetap desa
Di sini di tanah Timore,
Pergerakan kami untuk Indonesia
Disintegrasi hanya nyanyian bejat pelantun-pelantun bangsat
yang menopengi ambisinya dengn teriakan diskriminasi
Sama seperti penguasa kita hari ini, kawan
Keserakahan dan ketidakbijakan Pemimpin,
Kolonialisme modern dan Imprealisme masa kini,
Itulah yang harus dilawan
Sebenar-benarnya perlawanan!
Di sini di tanah Timore…
Pergerakan kami untuk Indonesia
Integrasi adalah harga mati dan tak butuh penawaran
Lagu yang kami dendangkan sama seperti pemuda 1928
Meski dengan lirik dan irama biasa ( tak terlalu heroik)
Propaganda ekonom-ekonom dan politikus busuk
antek-antek Penguasa,
Kapitalisme dan neolib yang mulai merajai
Itulah yang harus kita perangi
Sebenar-benarnya peperangan!
Kawan-kawanku di Papua…
sultan Nuku telah menulis sejarah untuk kami
Di Tanah kalian!
Haruskah sepenggal cerita itu tamat
Seperti kisah Timur Lorosae yang juga beranjak dari Nusantara?
Bukankah Kita saudara kandung dari rahim pertiwi?
Kita sama-sama terluka parah…
Lapindo masih berdarah,
Air mata di teluk buyat juga mungkin belum mengering
Halmahera kami?
Keperawanan tanahnya mulai dilirik setan-setan bule
Sebentar lagi akan diperkosa insinyur-insnyur pertambangan
Yah, tidak lama lagi,
Tegakah kalian berlalu meninggalkan semua yang terluka?
Revolusi kawan, bila itu adalah solusi
Tapi mari melakukannya untuk Indonesia
Indonesia yang juga milik kami, kalian juga mereka!
Di sudut dan di jengkal-jengkal landasan yang kita pijaki
Bertabur petaka…
Tiap sudut dan jengkalnya, bukan hanya di tanah kalian
Di Timur, Barat, Utara dan Selatan
Tak ada yang tersisa, kawan!
Berkembang membentuk janin
Lalu lahir sebagai generasi baru
Generasi yang kini sibuk dalam pergulatan zaman
Di sini di tanah Timore…
Kami memekik pada kalian yang berpesta
Dengan idelalisme konyol tapi haus kekuasaan
Berhentilah melukai nasionalisme
Yang mengalir pada setiap darah yang memerah
Di tanah persada…!
Di sudut dan di jengkal-jengkal landasan yang kita pijaki
Bertabur petaka…
Tiap sudut dan tiap jengkalnya, bukan hanya di tanah kalian!
Di Timur, Barat, Utara dan Selatan
Tak ada yang tersisa, kawan
Kalian ributkan pemerataan pembangunan?
Jangan kira kamipun tak suarakan itu!
Bahkan mungkin Tidore,
Negeri kami,
Akan terlupa sebagai kota karena wujudnya tetap desa
Di sini di tanah Timore,
Pergerakan kami untuk Indonesia
Disintegrasi hanya nyanyian bejat pelantun-pelantun bangsat
yang menopengi ambisinya dengn teriakan diskriminasi
Sama seperti penguasa kita hari ini, kawan
Keserakahan dan ketidakbijakan Pemimpin,
Kolonialisme modern dan Imprealisme masa kini,
Itulah yang harus dilawan
Sebenar-benarnya perlawanan!
Di sini di tanah Timore…
Pergerakan kami untuk Indonesia
Integrasi adalah harga mati dan tak butuh penawaran
Lagu yang kami dendangkan sama seperti pemuda 1928
Meski dengan lirik dan irama biasa ( tak terlalu heroik)
Propaganda ekonom-ekonom dan politikus busuk
antek-antek Penguasa,
Kapitalisme dan neolib yang mulai merajai
Itulah yang harus kita perangi
Sebenar-benarnya peperangan!
Kawan-kawanku di Papua…
sultan Nuku telah menulis sejarah untuk kami
Di Tanah kalian!
Haruskah sepenggal cerita itu tamat
Seperti kisah Timur Lorosae yang juga beranjak dari Nusantara?
Bukankah Kita saudara kandung dari rahim pertiwi?
Kita sama-sama terluka parah…
Lapindo masih berdarah,
Air mata di teluk buyat juga mungkin belum mengering
Halmahera kami?
Keperawanan tanahnya mulai dilirik setan-setan bule
Sebentar lagi akan diperkosa insinyur-insnyur pertambangan
Yah, tidak lama lagi,
Tegakah kalian berlalu meninggalkan semua yang terluka?
Revolusi kawan, bila itu adalah solusi
Tapi mari melakukannya untuk Indonesia
Indonesia yang juga milik kami, kalian juga mereka!
Di sudut dan di jengkal-jengkal landasan yang kita pijaki
Bertabur petaka…
Tiap sudut dan jengkalnya, bukan hanya di tanah kalian
Di Timur, Barat, Utara dan Selatan
Tak ada yang tersisa, kawan!
Minggu, 17 Januari 2010
Jangan Paksa Aku Untuk Berkisah
Jangan paksa aku untuk berkisah!
karena semua kisahku hanyalah luka
Apa yang ingin kau dengar dariku?
Benarkah kau ingin mendengarnya?
Jangan paksa aku untuk bercerita!
Sebab semua ceritaku adalah perih
Apa yang ingin kau dengar dariku?
Bukankah kisah dan cerita kita sama?
Tentang negeri yang terampas,
Tentang rakyat yang tertindas,
Tentang keadilan yang tergilas
Dan entah tentang apa lagi....
Kita sudah tak punya kisah indah
Ketika kau dan aku memilih berhenti
Berjuang melawan kesenjangan
Melebur dalam tragedi ketidakberdayaan
Membeku dalam keputusasaan...
Padahal belum saatnya menyerah!
Kita sudah tak punya cerita indah
Sejak kau dan aku memilih diam
Saat tangis dan rintih jelata
Menebar di tiap sudut negeri
Kita hanya menjadi budak keserakahan
Serakah karena ketidakpedulian ini!
Jangan paksa aku untuk berkisah dan bercerita!
Aku ingin kita sama-sama mengulang sejarah
Jalan pulang itu masih yang dulu...
Meski tetap terjal bahkan semakin terjal
Ku mau kita menempuhnya...!
Jangan pernah ragu...
Kaki kita masih tetap kuat berpijak juga melangkah,
Tangan kita masih mampu terkepal
Jangan menyerah lagi...
Atau semua hanya berakhir menjadi kisah sedih
Yang benar-benar tak pantas kita ceritakan..!!!!
karena semua kisahku hanyalah luka
Apa yang ingin kau dengar dariku?
Benarkah kau ingin mendengarnya?
Jangan paksa aku untuk bercerita!
Sebab semua ceritaku adalah perih
Apa yang ingin kau dengar dariku?
Bukankah kisah dan cerita kita sama?
Tentang negeri yang terampas,
Tentang rakyat yang tertindas,
Tentang keadilan yang tergilas
Dan entah tentang apa lagi....
Kita sudah tak punya kisah indah
Ketika kau dan aku memilih berhenti
Berjuang melawan kesenjangan
Melebur dalam tragedi ketidakberdayaan
Membeku dalam keputusasaan...
Padahal belum saatnya menyerah!
Kita sudah tak punya cerita indah
Sejak kau dan aku memilih diam
Saat tangis dan rintih jelata
Menebar di tiap sudut negeri
Kita hanya menjadi budak keserakahan
Serakah karena ketidakpedulian ini!
Jangan paksa aku untuk berkisah dan bercerita!
Aku ingin kita sama-sama mengulang sejarah
Jalan pulang itu masih yang dulu...
Meski tetap terjal bahkan semakin terjal
Ku mau kita menempuhnya...!
Jangan pernah ragu...
Kaki kita masih tetap kuat berpijak juga melangkah,
Tangan kita masih mampu terkepal
Jangan menyerah lagi...
Atau semua hanya berakhir menjadi kisah sedih
Yang benar-benar tak pantas kita ceritakan..!!!!
Selasa, 01 Desember 2009
Kita Bukan Orang Asing
Kawan...
kenapa kita di sini?
berapa lama kita telah di sini,
di negeri asing?
dan untuk apa?
Empat, lima, sampai enam tahunkah?
mungkin mencari mutiara ilmu agar dibawa ke kota kita?
benarkah?
Aku takut kita hanya berpesta dengan kesia-siaan
sementara di kaki-kaki kie matubu
banyak yang tengah mengais harapan
entah pada siapa...
Kawan...
di kota kecil yang kita tinggalkan itu,
kemiskinan masih sama kejam seperti ketika kita melangkah pergi...
Empat, lima sampai enam tahun...
apa yang telah di bawa oleh pendahulu kita dari negeri asing ini...
gelar dan kesombongan?
Bukankah sekarang yang tengah duduk di kursi empuk
penguasa adalah mereka yang juga pergi ke negeri asing...
lalu pulang sebagai orang asing?
Aku takut kita terjebak dalam lingkaran yang sama..
hingga pengabdian hanyalah mimpi kosong yang kita janjikan untuk
kota kecil kita
Apalah artinya gelar yang kita sandang?
kalau ternyata hanya euforia keangkuhan?
kita tidak lebih hebat dari petani kecil
yang menantang terik di siang hari
untk mempertahankan eksistensi 'limau duko'
sebagai negeri yang subur!
Kawan...
mari tetapkan hati dengan ikrar suci
kita tak akan pulang mejadi orang asing
karena kita adalah 'generasi Nuku' yang akan membawa perubahan
untuk Tidore kepulauan, kota yang kita banggakan!!
kenapa kita di sini?
berapa lama kita telah di sini,
di negeri asing?
dan untuk apa?
Empat, lima, sampai enam tahunkah?
mungkin mencari mutiara ilmu agar dibawa ke kota kita?
benarkah?
Aku takut kita hanya berpesta dengan kesia-siaan
sementara di kaki-kaki kie matubu
banyak yang tengah mengais harapan
entah pada siapa...
Kawan...
di kota kecil yang kita tinggalkan itu,
kemiskinan masih sama kejam seperti ketika kita melangkah pergi...
Empat, lima sampai enam tahun...
apa yang telah di bawa oleh pendahulu kita dari negeri asing ini...
gelar dan kesombongan?
Bukankah sekarang yang tengah duduk di kursi empuk
penguasa adalah mereka yang juga pergi ke negeri asing...
lalu pulang sebagai orang asing?
Aku takut kita terjebak dalam lingkaran yang sama..
hingga pengabdian hanyalah mimpi kosong yang kita janjikan untuk
kota kecil kita
Apalah artinya gelar yang kita sandang?
kalau ternyata hanya euforia keangkuhan?
kita tidak lebih hebat dari petani kecil
yang menantang terik di siang hari
untk mempertahankan eksistensi 'limau duko'
sebagai negeri yang subur!
Kawan...
mari tetapkan hati dengan ikrar suci
kita tak akan pulang mejadi orang asing
karena kita adalah 'generasi Nuku' yang akan membawa perubahan
untuk Tidore kepulauan, kota yang kita banggakan!!
Langganan:
Postingan (Atom)